Sedikit Mengenai Nagari Bonjol Yang Terlupakan


(Negeri Bonjol)

[Image: img_9780.jpg?w=300]Museum Tuanku Imam Bonjol

Apa yang terbayang dibenak tuan dan engku pabila kami menyebut nama Bonjo atau
Bonjol? Tentunya Tuanku Imam Bonjol sang pahlawan Perang Paderi. Tidak
banyak yang tahu, terutama orang-orang yang berasal dari luar
Minangkabau bahwa nama Bonjol sesungguhnya ialah nama salah satu negeri
di pedalaman Minangkabau. Nama negeri ini dinisbatkan pada Peto Syarif yang menjadi Imam atau pemuka agama yang pada saat itu merupakan pucuk tertinggi pimpinan politik di negeri tersebut. Peto Syarif ialah nama aslinya sedangkan Imam Bonjol merupakan nama gelar yang disematkan kepada dirinya.

Negeri ini dilalui oleh Jalan Lintas Sumatera, yakni jalan yang dilalui
pabila tuan hendak menuju Sumatera Utara. Terletak 50 km sebelah utara
Kota Bukittinggi. Dari Bukittinggi tuan akan melalui jalan berliku
membelah Pegunungan Bukit Barisan. Hati-hati tuan, akan jarang tuan
temui jalan yang lurus dan datar, namanya juga pegunungan. Namun
pemandangan yang disajikan sepadan dengan kesulitan yang tuan hadapi.
Berhentilah agak sejenak pada beberapa titik untuk menikmati keindahan
pemandangan Alam Minangkabau. Tuan takkan menyesal,..

Di Nagari Bonjo atau Bonjol ini terdapat sebuah museum yang dibuat untuk
mengenang perjuangan Tuanku Imam (begitu biasa beliau dipanggil) dalam
menegakkan Hukum Syari’at di Tanah Minangkabau. terletak pada lapangan
yang cukup luas. Pada kawasan ini juga terdapat sebuah tugu berbentuk
bola dunia sebagai penanda batas garis khatulistiwa. Negeri Bonjol
dilalui oleh garis khayal khatulistiwa atau equator bahasa Inggrisnya.

Di depan bangunan museum akan tuan temui patung Tuanku Imam sedang
menunggang kuda. Pada tugu tersebut tertulis “MONUMEN TUANKU IMAM BONJOL
(PETO SYARIF) 1772-1864. PEMIMPIN PERANG PADERI 1821-1837”

[Image: img_9750.jpg?w=224]Tugu Tuanku Imam Bonjol

Cukup mengherankan juga bahwa di negeri ini terdapat patung Tuanku Imam
sebab mengingat dalam ajaran Islam sama sekali tidak diperbolehkan
membuat patung. Apakah ini suatu pertanda bahwa tingkat pemahaman Agama
Islam pada orang Minangkabau semakin menipis pada masa sekarang? Mungkin
juga tidak, sebab tujuan dibuat patung ini tentunya berbeda pula.
Apakah benar untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam semata? Atau ada
alasan lain oleh Pemerintah Daerah? Wallahu’alam..

Keadaan taman dan museum Tuanku Imam boleh dikatakan tidak terawat
disaat kami mengunjungi tempat ini. Tuan tengok sendiri pada tugu
(monumen) Tuanku Imam, tak patut pula kami terangkan bukan? Museum
sedang keadaan tertutup ketika kami sampai di sana, padahal saat itu
hari Ahad, hari libur. Keadaan kebersihan juga kurang terjaga, terdapat
beberapa kerusakan pada bangunan gedung museum.

Namun yang sangat memprihatinkan ialah kawasan ini juga dijadikan
sebagai tempat memadu kasih bagi sebagian anak muda. Walaupun sejauh
pemandangan kami tidak melihat adanya hukum syari’at (kalau boleh
dikatakan berpacaran tidak bertentangan dengan Hukum Syari’at) yang
dilanggar oleh pasangan kekasih yang sedang memadu cinta di kawasan ini.
Namun hal tersebut tak urung membuat kami mencela dalam hati. Bukankah
ini Negerinya Tuanku Imam Sang Pahlawan Syari’at Islam, terlebih kali
ini kawasan museum beliau pula..!
[Image: trans.gif]

[Image: img_9745.jpg?w=224]Tugu Khatulistiwa

Mungkin inipulalah akibat (kosekuensi) yang harus ditanggung pabila kita
telah membuat suatu kawasan tempat pelancongan (wisata). Walau
bagaimana pun kawasan wisata tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan
berpacaran. Namun elokkah itu tuan?

Mungkin bagi tuan yang menganut paham hedonis dan tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai aturan dalam adat maupun agama akan menjawab “Ah.. biasa itu..!”
ya.. sudah banyak mulut yang mengeluarkan pernyataan semacam itu tuan.
Akan tetapi yang biasa pada masa sekarang hendaknya kita pulangkan pada
aturan dalam agama dan adat kita. Itu sebagai pertanda bahwa kita orang yang berfikir (terdidik).

Kalau tuan menjawab lagi “Bukankah orang disana sama sekali tidak mempermasalahkan, kenapa pula tuan yang nyinyir mengenai perkara ini..!?”

Benar tuan, orang disana tampaknya tidak mempermasalahkan perkara ini.
Namun sudahkah kita teliti dulu kenapa mereka terlihat membiarkan saja?
Cobalah ditanya dulu? Sejauh pengatahuan kami dalam menghadapi perkara
semacam ini, alasan orang sekarang sangatlah beragam, mulai dari “Tak hendak ikut campur urusan orang” lazimnya jawaban orang-orang kota (liberal) masa sekarang.

Ada juga yang menjawab “Takut saya tuan, nanti mereka marah kepada kami, anak muda sekarang banyak yang kurang ajar kepada orang tua”

[Image: img_9786.jpg?w=224]Remaja Belia Sedang Memadu Kasih

atau “Nanti marah keluarganya kepada kami, mereka saja yang telah
memberi makan tidak pernah memarahi lalu kenapa kami pula yang
berani-beraninya memarahi mereka?”

ada lagi “Kami tak hendak disebut fanatik tuan, maklumlah zaman
sekarang jika kita bercakap perihal Hukum Syari’at dikata teroris oleh
orang. “Negara ini negara bebas bukan negara agama” kata mereka” dan banyak lagi duhai tuan alasannya..

Begitulah tuan pengalaman kami mengunjungi negeri Tuanku Imam. Sebuah
negeri di pedalaman Minangkabau. Sayang kami tidak memiliki waktu yang
cukup untuk melancong lebih lama. Besar sekali keinginan kami untuk
mengunjungi sebuah bukit yang menjadi benteng pertahanan terakhir Tuanku
Imam. Namun tak apalah, mungkin ini suatu pertanda bahwa negeri ini
kembali mengundang kami untuk mengunjunginya dilain waktu, Insya Allah..

Mudah-mudahan kisah kami ini dapat memberi hikmah dan pelajaran bagi
tuan, puan, engku, dan encik sidang pembaca sekalian. Kami tentunya
paham bahwa ada juga yang tidak sependapat dengan kami, silahkan. Kami
hanya sekadar menunaikan kewajiban kami sebagai seorang muslim.
Mudah-mudahan berkenan ke hadapan tuan, pabila tidak kami do’akan semoga
Allah Ta’ala membukakan Pintu Hidayahnya buat tuan sekalian…

[1] Penduduk Minangkabau lebih mengenal nagari ini dengan nama Bonjo. Sedangkan Bonjol merupakan
pengindonesiaan dari nama negeri ini. Sama kiranya dangan Luhak Limo
Puluah Koto menjadi Luhak Lima Puluh Kota, serta beberapa nama negeri
lainnya di Minangkabau.

sumber : http://minangcabo.blogspot.com/2012/05/s…onjol.html

BACA JUGA :

Iklan