Filosofi ABS-SBK dan Krisis Keteladanan


Buya MasoedDitulis oleh hirvan zued  .

Andai ditelusur ke ampulua (umbi paling dalam), Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), adalah kerangka  pandangan hidup (wy of life) masyarakat Minangkabau secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial yang bersayap hubungan horizontal sesama manusia, serta hubungan vertikal dengan  Allah SWT (QS. Ali-’Imran ayat 112).

Dengan begitu, ABS-SBK sebagai konsep nilai yang  telah disepakati menjadi self identity (jati diri) Minangkabau, menyembul dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses pergulatan panjang. Dalam kerangka sejarah (historical approach): sejak Islam menyeruak dan merambah ke Minangkabau pada abad ke-7 M (Hamka: 1971): terjadi titik temu antara adat dengan Islam. Muaranya? Perpaduan kedua konsep itulah menjadi sebuah sistem nilai (value system) dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan falsafah ABS-SBK. Magnit Tokoh Adat & Agama

Seperti disinggung di muka antara adat dan Islam, merupakan satu kesatuan yang bertaut secara budaya. Dengan kata lain, adat dan agama bagai dua sisi mata uang yang saling berjalin-kelindan. Dengan begitu, tokoh agama (rijalu ad-Din) tempo doeloe selain memosisikan diri sebagai da’i, juga menyandang gelar adat secara kultural. Sebut saja Hamka Dt Indomo; M Natsir Dt Sinaro Panjang; Mansur Daud Dt Palimo Kayo; dan banyak lagi yang lain. Ketiga pemuka adat dan agama kharismatk dan substansialistik (hakimun wa-alfaqihun) kebanggaan tanah Minang itu tercatat sebagai tokoh yang mampu dan berjasa mensinergikan Islam dengan adat Minangkabau.     Hamka misalnya, karya monumental beliau bertajuk: Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi (1947) menjadi buku standar bagi menyauk ajaran adat secara substansial. Dan, yang membuat kita berdecak-kagum, literatur yang diterbitkan Sa’diyah Putra Padang Panjang itu selain diburu generasi sekarang juga mengalami terbit ulang beberapa kali. Selain Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, pengarang novel: Di bawah Lindungan Ka’bah itu, sampai el-maut datang menjem­put (1981) telah meluncurkan buku tak kurang dari 278 judul. Begitu juga dengan M Natsir, dua buku beliau masing-masing Fiqhud Dakwah dan Kapita Selekta menjadi bacaan wajib bagi 14 IAIN/UIN di tanah air.

Bagaimana Dt Palimo Kayo? Selain pernah menjabat: Ketua Umum MUI Sumbar; anggota Majlis Fatwa MUI Pusat dan Dubes di Irak beliau pun tercatat sebagai penulis produktif. Sekitar 1960-an-1970-an, tulisan-tulisan bernas hal-ihwal agama dan budaya putra sulung ulama reformis dan modernis: Syekh Daud Rasyidi ini, selalu ditunggu dapur Redaksi Panji Masyarakat. Kiat-kiat dakwah yang diayunkan ketiga tokoh nasional tersebut, tercatat dalam sejarah mampu mensipongangkan sekali lagi Minangkabau secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial ke pentas nasional bahkan internasional. Sebuah lompatan budaya spektakuler memang!

Rahasianya? Selain proaktif membimbing umat dengan meto­dologi dakwah universal. Misalnya: da’wahu bi al-lisan (dakwah verbal); da’wahu bi al-kitabah (dakwah tulisan); dan da’wahu bi-alhal (dakwah dengan akhlaqu al-karimah). Tegasnya, beliau-beliau itu mampu memosisikan diri sebagai qudwah hasanah alias contoh-teladan (QS. Al-Ahzab ayat 21). Dengan demikian, bila beliau-beliau mentrasfor­masikan Islam ke tengah masyara­kat yang sedang mengalami kehausan: spiritual, intelektual dan kehausan kultural kehadiran beliau tercatat dalam sejarah: bagai magnit yang mampu menjadi jembatan rasa (mawaddah fi al-qurba) antara pemimpin dengan umat yang diayomi.

Tersandung Hukum & Meniggalkan Umat

Berbeda jauh dengan pemuka agama di zaman kontemporer yang kian menanjak maju kini. Dan, dalam kerangka ini, pertanyaan membuncah di sekeping hati: kenapa pemuka agama tempo doeloe berhasil signifikan memagar akidah objek dakwah (al-mad’u) agar tak terkontaminasi wabah tbc alias takhyul, bid’ah dan c(k)hurafat (syirik)! Kenapa pemuka agama sekarang nyaris gagal membimbing umat?

Beberapa jawaban dapat disirih-ceranakan: Pertama, nyaris lah basuluah mato-ari; bagalanggang mato-rang banyak (terang benderang): ulama, ustadz, mubaligh, kiya-i di zaman tak tentu ojok (edan) ini, sepertinya hampir tak mampu menampilkan diri (qa-imu an-nafs) sebagai panutan. Yang membuat dahi bergerinyit, ada pemuka agama tagaliciak (tergelincir), me mark-up dana umat demi mempergemuk pundi pribadi (self interest). Sebut saja: dana haji, dana zakat serta dana dakwah komunitas terpencil dan banyak lagi yang lain. Muranya? Segelintir tokoh agama kita tadi berurusan dengan  aparat hukum.

Kedua, sejak reformasi dan demokratisasi menggelinding, pada 1998 lalu kayaknya benar-benar membawa “mukjizat” bagi pemuka agama. Berdalih(l) mendongkrak kemaslahatan umat lewat assiya­satu al-Islam (politik Islam), mereka bahondoh-poroh (rame-rame) merancah  gelanggang low politics. Kereta yang ditompangi cukup beragam lagi bervariasi. Selain Parpol berazas Islam dan, atau berbasis umat Islam juga Parpol nasionalis-sekuler yang membuka kran untuk pemuka Islam.

Namun, setelah duduk di kursi empuk umat yang berjasa menyeberangkan tokoh idolanya ke habitus politik praktis di samping terkesan melupakan umat, mereka pun terpengap ke dalam lorong sempit politik “bermazhab” machiavellisme. Sebut saja kurenah politik berorientasi memperkaya diri. Dalam bahasa yang akrap di telinga kaum kontemporer kini, mereka asik-maksuk dengan permainan baru. Yaitu sikap politik materialisme, konsumerisme dan pragmatisme. Bahkan sebagian mereka terbenam ke kawah hedo­nisme. Na’udzubillahi mind­zlik!

Agenda ke Depan

Agar umat, masyarakat dan rakyat tidak lagi menciap-ciap bagai ayam lantaran ditinggal pergi oleh sang induk (baca: pemuka agama) maka paling tidak terbentang dua agenda yang sejatinya diayunkan secara bersama-sama dan dibalut dengan semangat kebersamaan (egaliterianisme): Pertama, mengubah strategi dakwah dari dakwah konvensional berupa tabligh dan ceramah agama menjadi metodologi dakwah universal seperti yang dilakonkan pemuka agama tempo doeloe sebagaimana disinggung di muka. Soalnya, dakwah konvensional hanya mampu menyentuh kuli-kulit bawang dari doktrin Islam yang justru menjamah semua dimensi kehidupan (multi-komplek).

Kedua, ABS-SBK tak lagi hanya diposisikan sebagai ajinomto setiap  kampaye Pilpres, Pilkada dan Pemilu. Tak terkecuali pada Pemilu 2014 yang sudah di ambang pintu. Melainkan setumpuk falsafah hidup yang terkandung berdaya pukau tinggi dalam ABS-SBK mestilah dihayati dan diamalkan dalam menganyam sebuah kehidupan. Tidak saja berspektrum individual, tapi juga merajut kehidupan kolek­tif-komunal. Ruang-lingkupnya? Menjamah kehidupan berma­syarakat, berbangsa dan bernegara.

Secercah keinginan ini, terasa kian menyergap sampai mejilat ubun-ubun. Sebab, bertelekan pada filosofi ABS-SBK dikatakan: adat kita ndak lapuak dek ujan; ndak lakang dek paneh; dek aia indaklah basah; dek api indaklah anguih (tidak berubah menurut dimensi ruang dan waktu). Lebih dikerucutkan! filosofi ABS-SBK pada hakikatnya tidaklah boleh diubah dan dipolitisir hanya demi menjuluk tujuan-tujuan sejengkal ke depan. Semoga!*.

( H MARJOHAN )

Pemerhati Sosial-Budaya

Iklan