Benalu Maninjau dan Kelok Ampek-ampek


ImageJika manusia mau sedikit saja belajar dari hikmah alam yang diberikan kepadanya, maka hidup ini barangkali akan lebih nyaman dilakoni. “Alam takambang jadi guru”, pepatah minang memberi petunjuk kearifan hidup.

Artinya, alam terkembang menjadi guru. Dari alam kita dapat belajar banyak hal, bukan saja untuk hidup dalam satu ekosistem yang menyejahterakan, tetapi alam juga memberi kearifan dan kecerdasan yang luar biasa unggul. Pergi ke ranah Minang atau daerah-daerah pedalaman lain yang alamnya relatif masih belum terdera habis-habisan oleh ulah buruk manusia-apabila kita jeli mengamati-akan kita dapati begitu banyak hal yang menuntun kita kepada kecerdasan hidup yang mengagumkan.

Pekan lalu Uda Jufrie, sahabatku dari ranah Minang, mengajakku memanjati punggung Bukit Barisan melalui “jalan menunju ke langit” Kelok Ampek-ampek yang menanjak terjal-meliuk tajam dari lembah Danau Maninjau sampai ke koto (artinya dataran) atap langit Puncak Lawang di wilayah Agam-kurang lebih 25 kilometer arah barat daya Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Elok nan menakjubkan tiada dua wilayah itu. Keelokan Danau Maninjau tak kalah dari keindahan danau-danau di Luzern, Zurich, atau Geneva (Swiss) yang terkenal di seluruh dunia.

Dari arah Padang, Kelok Ampek-ampek berada di ujung lingkaran Danau Maninjau, memanjat-meliuk tajam ke kiri ke kanan menapak langit Bukit Barisan. Sebaliknya, dari arah Bukittinggi, Kelok Ampek-ampek akan meliuk terjal menuruni punggung Bukit Barisan menuju lembah Danau Maninjau yang hijau makmur bagai lembah surgawi.

Dari lembah Maninjau, jalan tembus menjulang langit yang berkelok-kelok itu disebut Kelok Ampek-ampek karena berkelok-kelok naik menikung tajam sebanyak 44 kali. Sebenarnya ada lebih dari 44 tikungan tajam di sepanjang jalan tembus langit itu, tetapi beberapa kelok tak dihitung menjadi bagian dari Kelok 44, karena tak menanjak cukup tajam seperti ke-44 kelok yang sebenarnya.

Seluruh tikungan tajam yang berada di Kelok Ampek-ampek itu bersambung terus-menerus tanpa jeda sepanjang kurang lebih 10 kilometer. Dengan lebar jalan sekitar 3 sampai 3,5 meter tanpa median atau pagar pembatas di kiri-kanan tebing curam, jalan bikinan pemerintah kolonial Belanda itu menjadi jalan tembus Maninjau-Puncak Lawang-Bukittinggi.

Di Puncak Lawang itulah konon terjadi pertemuan bersejarah antara Tuanku Imam Bonjol dan mantan Panglima Perang Pangeran Diponegoro-Pangeran Alibasyah Sentot Prawirodirjo-untuk melanjutkan perlawanan bersama menentang pemerintah kolonial Belanda.

Etika Kelok Ampek-ampek

Karena ketajaman tikungan yang terjal berkelok-kelok naik terus-menerus tanpa henti, tak semua kendaraan pribadi maupun umum berani melewati jalan tembus langit itu. Apalagi di petang dan malam hari. Di samping kabut atau hujan akan menghadang kekelaman bukit, di kiri-kanan jalan sempit bertebing curam yang ditumbuhi pohon-pohon lebat yang tinggi-tinggi itu akan juga siap menjadi terminal akhir bagi para pengemudi kendaraan bermesin yang sembrono untuk berani melewati punggung Bukit Barisan tanpa kewaspadaan tinggi dengan kualifikasi teknik sopir kelas satu. Baca lebih lanjut

Iklan