Mercusuar belanda yang bersinar di Bukit Lampu


Mercusuar tiga generasi

Mercusuar tiga generasi

Penah mendengar cerita Kota Padang memiliki lubang (goa) peninggalan penjajahan Jepang? Ya, tentunya cerita tersebut benar adanya.  Siapa sangka lubang  Jepang ini telah ada berpuluh-puluh tahun lamanya dan baru ditemukan di Kota Padang berkat laporan sejumlah masyarakat yang menemukan peninggalan sejarah tersebut.

Siang itu di akhir bulan Oktober 2012, saya beserta tiga rekan saya berkesempatan melihat langsung Lubang Jepang yang berdampingan dengan menara sistem navigasi laut (Mercusuar).

Mudah sekali menemukan lokasi bersejarah ini, persis di jalan lintas Padang-Painan. Tepatnya di kelurahan Sungai Beremas ( kawasan Bukit Lampu ) , Kecamatan Bungus Teluk Kabung, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Padang, Sumatra Barat, kita bisa menandainya dengan melihat menara yang memiliki tinggi hampir 10 meter ini.

Bukit Lampu mercusuar

Bukit Lampu mercusuar

Hampir 30 menit kami berangkat dari pusat Kota Padang dan setelah hampir sampai kami mencoba menanyakan lokasi Mercusuar berlubang Jepang ini kepada masyarakat sekitar. “Lubang Jepang nya ada dua yang di bawah situ satu dan di sana satu,” ujar salah satu warga kepada kami.

Lantas kami bergegas memarkirkan kendaraan roda dua ini dan berjalan menuju gapura yang pagarnya tertutup.  Kawasan ini bernama Mensu Bramas. Di bawah Dirjen Perhubungan Laut, sub-bidang navigasi Teluk Bayur.

Kami membuka pagar dan mencari petugas yang menjaga kawasan ini. Kemudian kami bertemu dengan Zulkarnain (41) salah satu petugas Navigasi Mercusuar di rumah dinasnya. “Mau lihat lubang Jepang ya?” tanyanya dengan ramah kepada kami.

Sambil berjalan menuju lubang Jepang tersebut, Zulkarnain menceritakan sedikit sejarah Mercusuar dan lubang Jepang ini. Menurutnya, Mercusuar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda yang digunakan untuk memantau sistem navigasi kapal.

“Saya tidak tahu persis kapan menara navigasi ini didirikan, soalnya saya sudah tahunya turun temurun dari petugas lainnya yang menceritakan sejak zaman Belanda sudah ada,” katanya sembari menunjuk menara yang berwarna putih itu.

Hamparan rerumputan yang rapi dan tertata kami lewati. Zurkarnain melanjutkan ceritanya setelah Belanda pergi dari Kota Padang, mereka meninggalkan Mercusuar ini berserta satu rumah. Kemudian masuklah penjajah baru dari negara Jepang dan mengambil alih kawasan ini.

Pada masa penjajahan Jepang tepatnya saat Perang Dunia II. Mercusuar ini selain untuk mengawasi kawasan perairan Teluk Bayur juga digunakan untuk sistem pertahanan dengan membangun benteng dan lubang-lubang pertahan bagi tentara Jepang.

Mecusuar ini sempat hancur akibat di bom saat perang dengan tentara Inggris. Padalah menurut peraturan internasional kawasan navigasi seperti ini sama halnya dengan kawasan dengan tim medis yang berada pada daerah putih atau damai.

Namun dari kelicikan penjajahan Jepang itu, mereka menembak kapal-kapal yang diduga musuh saat memasuki teluk Bayur sehingga wajar saja jika dihancurkan oleh tentara Inggris. Saat ini puing-puingnya masih terlihat di depan Mercusuar baru. Belanda atau Jepang memang sudah merencanakan untuk menguasai Kota Padang sehingga wajar saja banyak peninggalan zaman penjajahan.

Pada massa pemerintahan presiden Soeharto Mercusuar ini dipugar kembali dari Proyek Pelita Nasional tahun 1974/1975 yang dilaksanakan oleh CV.Ubani Padang dan diresmikan oleh Dirjen Perla pada tahun 1975.

“Memasuki menara, kita akan melalui tangga melingkar menuju puncaknya. Lampu yang berada di puncak tersebut masih asli sisa peninggalan zaman Belanda,” ujar Zurkarnain pria asli Kota Padang ini.

Pemandangan teluk Bayur dengan jelas bisa kita nikmati. Menuruni satu persatu anak tangga akhirnya kami sampai mulut lubang tersebut. Ternyata letaknya berada di bawah Mercusuar.

“Mau lihat kedalam?” tanyanya pada kami.

Lantas, Zulkarnain kembali ke atas untuk mengambil kunci pintu lubang Jepangnya. Dulunya, sebelum kawasan ini dan pintu masuk lubang Jepangnya dipagar banyak masyarakat umum mengujungi tempat ini apalagi banyaknya muda mudi yang berpacaran dan berbuat mesum sehingga pengelola kawasan ini memagar semuanya demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Buktinya terlihat di mulut lubang Jepang ini, banyak coretan-coretan dari tangan-tangan jahil yang merusak keindahan tempat ini. Padahal dari sini kita dapat menambah pengetahuan yang mungkin tidak diajarkan di bangku sekolah serta melihat pemandangan kapal-kapal yang berlalulangan bersandar di Teluk Bayur.

Lubang Jepang ini memiliki empat pintu, dua pintu berada dalam kawasan Mensu Bramas. Dua pintu lagi berada di dekat rumah penduduk. Saat memasuki lubang Jepang suasananya cukup sejuk dan dingin. Di dalam lubang Jepang terlihat kotor akibat jarang dibersihkan dan menjadi sarang kelelawar. Lubang ini terbuat dari beton yang masih kokoh dengan tebalnya hampir 1 meter dan memiliki memiliki lorong ± 250 meter.

“Sedikitnya tiga jumlah kamar yang ada pada masing-masing gua yang memiliki panjang lorong antara 50-100 meter. Sedangkan, tinggi gua tersebut, berkisar 170 cm, yang memang sengaja disesuaikan dengan tinggi orang Jepang,” jelasnya.

Di dalam kawasan Mensu Bramas ini selain menyuguhkan pemandangan laut dan pesona bangunan bersejarahnya seperti menara suar yang terdapat benteng dan lubang pinggalan penjajahan Jepang juga terdapat meriam namun yang tersisa hanya kedudukan meriam.

Sebagai tempat bersejarah sudah sepatutunya pemerintah daerah memperhatikan aset edukasi ini karena banyak dari masyarakat Kota Padang bahkan Sumatra Barat tidak mengetahui lokasi ini.

Walaupun kawasan ini tertutup untuk umum kita dapat meminta izin terlebih dahulu kepada petugas agar dapat masuk ke lokasi mercusuar ini.

sumber : WawasanProklamator.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s