Festival Rendang


Pewarisan Diputus Kesibukan dan Budaya Cepat Saji.

Festival Rendang 2011

Sejak naik daun menjadi makanan terlezat nomor satu di dunia oleh stasiun televisi berita internasional CNN, rendang seakan membuka mata pemilik kuliner tradisional Minangkabau tersebut, untuk mempromosikan dan menjaga warisan budaya itu. Hanya saja, kesibukan dan budaya cepat saji generasi gadget seakan memutus mata rantai pewarisannya.

Aroma khas bumbu masak dari santan yang sedang menggelegak membuat terbit selera. Di salah satu tungku, dua perempuan paruh baya, dengan posisi berseberangan, sibuk mengaduk santan yang mulai mengental berwarna kecoklatan, bercampur potongan daging sapi di kuali.

Seorang perempuan lagi, yang kira-kira seumuran dua perempuan tadi, berusaha menjaga api di tungku itu tetap menyala dengan rata. Diaturnya persilangan kayu bakar di tungku sambil sesekali meniup bara berapi dengan seruas talang. Kadang, dia mengusap mata dengan punggung telapak tangannya, karena perih oleh asap.

Pemandangan yang sama juga terlihat pada tungku-tungku lain, yang berjejer di tenda yang dipasang memanjang itu. Pada rangka tenda bagian atas, setentang dengan tungku, kertas bertuliskan nama kabupaten dan kota digantungkan, sebagai penanda asal peserta Festival Randang yang berlangsung di pelataran parkir Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Kamis (24/11).

Irma Suryani, salah seorang peserta festival mengungkapkan kekhawatirannya, jika sewaktu-waktu kepandaian memasak rendang ini punah karena tidak ada pewarisan. Kecemasan Irma sangat beralasan, mengingat perkembangan dan kemajuan zaman mendorong orang mencari makanan isntan karena kesibukan sehari-hari.

Seperti sekarang, perempuan 46 tahun ini melihat banyak anak gadis atau anak perempuan yang tidak bisa memasak rendang. Penyebabnya bukan karena tidak ada kemauan belajar, tetapi kesibukan sekolah, kuliah dan bekerja. Kondisi itu pula membuat anak gadis Minang lupa belajar memasak randang di rumah. Namun tidak bagi pegawai Dinas Pertanian Agam ini, dia tetap berusaha mengajarkan anak gadihnya memasak rendang.

”Budaya instan atau cepat saji merambah generasi sekarang. Apalagi, membuat rendang butuh waktu lama. Kalau tidak sabar, rendang takaja masak rasanya ndak enak,” kata perempuan asal Lubukbasung, yang mengaku belajar membuat rendang dari orangtuanya sejak umur 17 tahun.

Setali tiga uang. Agustina, peserta dari Padang, ingin betul anak gadisnya pandai membuat rendang. Tapi karena sibuk bekerja atau sekolah, dia belum sempat mewarisi memasak rendang pada anaknya. Begitu juga Rosmini, peserta dari Bukittinggi. Hiba hatinya jika kelak rendang tidak ada pewarisnya, apalagi dipatenkan pula oleh negara lain. Ibu dari 5 anak ini mengharapkan rendang juga masuk dalam kurikulum muatan lokal di sekolah, terutama pelajaran PKK.

”Agar pewarisan rendang ini ndak putus, saya sengaja menyekolahkan anak bungsu saya yang cewek ke program studi Tata Boga UNP, di samping mengajarkannya sendiri di rumah,” kata pemilik Siska Catering tersebut.

Mengobati kekhawatiran dan hiba hati ibu-ibu itu, anak-anak sekolah dari beberapa SMA dan SMK di Padang, juga ikut dalam festival ini. Selain belajar di sekolah, rata-rata mereka telah belajar dari orangtuanya di rumah. Bahkan, salah seorang peserta dari SMA Don Bosco, yang bukan etnik Minangkabau, mengaku sangat tertarik dengan rendang dan belajar memasak dari beberapa orang di Padang.

Begitu juga Susi Ambarwati dan Nova yang belajar membuat rendang sejak SMP. Kemudian melanjutkan proses belajarnya ke SMKN 9 Padang. Siswa kelas II dan III ini juga terlibat dalam penyediaan rendang untuk jemaah haji beberapa waktu lalu di katering sekolahnya. Setiap hari mereka harus memasak randang rata-rata 30 kilogram daging.

Festival Rendang ini berakhir dengan makan bersama masakan dari para peserta tersebut. Ikut dalam prosesi ini Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar, Burhasman Bur, Kepala Taman Budaya Sumbar, Efiyarti, serta para tamu dan undangan dari beberapa provinsi di Sumatera.

Kemudian, para juri festival memilih 5 randang terbaik hasil masakan peserta dari berbagai kabupaten dan kota. Yaitu, Kota Padang, Padangpanjang, Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Padangpariaman. Sedangkan tingkat SLTA se-Kota Padang, dipilih SMA 2, SMK 6, SMK 9, SMK 3, dan SMA Murni, sebagai yang terbaik. (***)

[ Red/Husnal Hayati ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s