Manusia Minangkabau


Manusia Minangkabau: Iduik Bajaso, Mati Bapusako, Alam Takambang Jadi Guru

 

Fenomena perantau Minang yang menyewa mobil pada saat lebaran sudah menjadi rahasia umum. Semua dilakukan demi menjaga prestise bahwa “Awak sukses di rantau”. Matrilineal dan Material adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan dalam kultur Minangkabau.

Namun, Apakah kesuksesan atau dalam istilah Dr. Nusyirwan “Menjadi Orang” melulu berkonotasi pada raihan finansial? Lewat penelusurannya terhadap pepatah adat yang telah dilupakan orang, “Iduik Bajaso, Mati Bapusako”, Doktor Filsafat UGM ini mencoba mengajak masyarakat Minang untuk mengembalikan makna kesuksesan dalam cakupan yang lebih luas dan filosofis.

 

Sebuah Tanggapan Singkat dari Dr. Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan). Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo. untuk buku “Manusia Minangkabau”

 

 

Rasanya kita akan sepakat bahwa Minangkabau identik dengan pepatah-petitih, sejenis aphorisms, yaitu pernyataan-pernyataan singkat yang mengandung esensi kearifan hidup, sebagai nasihat kepada masyarakat Minangkabau. Biasanya pepatah-petitih difahami dan ditindaklanjuti secara terlepas-lepas, tanpa suatu wawasan yang bersifat komprehensif dan integral yang akan mengikatnya menjadi suatu pemikiran yang utuh. Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif dan integral tentang pandangan hidup keminangkabauan, kita memerlukan agama, filsafat, atau ideologi, dan dalam hubungan ini sangat terasa bahwa Minangkabau amat miskin. Pemikiran fisafati Minangkabau cenderung bersifat atomistis.

Demikianlah, setelah terbitnya karangan Prof Mr Nasroen tentang Dasar Filsafat Adat Minangkabau (1957) rasanya hampir tidak ada kajian tentang Minangkabau dari perspektif filsafat. Yang ada adalah perdebatan yang tiada putus antara dua sumber nilai keminangkabauan, yaitu adat Minangkabau dan agama Islam, yang satu merupakan kearifan lokal, yang lain merupakan agama wahyu yang bersifat universal.

Dalam hubungan ini sungguh menarik bahwa Dr Ir Nusyirwan, M.PH, Sutan Rajo Ameh (64 tahun), justru memilih kajian filsafat yang langka ini. Nusyirwan menyelesaikan disertasinya dengan judul Manusia Minangkabau: Iduik Bajaso, Mati Bapusako, Alam Takambang Jadi Guru ( GRE Publishing, Yogyakarta. 2010). Pilihan tema ini lebih menarik lagi, jika diingat bahwa Nusyirwan mempunyai latar belakang tiga bidang ilmu yang amat berbeda-beda, yaitu: ilmu teknologi, ilmu pertanian, ilmu kesehatan masyarakat, dan paling akhir menekuni ilmu fisafat. Dapat diperkirakan bahwa sehubungan dengan miskinnya pemikiran filsafati di Minangkabau, disertasi Nusyirwan ini merupakan suatu studi perintis (exploratory research) yang bersifat orisinal dan tentunya masih memerlukan kajian lanjutan.

Nusyirwan ingin meneliti ‘manusia Minangkabau’ dari perspektif pandangan hidup tradisional Minangkabau. Ia sadar benar-benar terhadap kesulitan melakukan telaahan filosofis terhadap demikian banyak pepatah-petitih Minangkabau, yang dituangkannya dengan kata-kata sebagai berikut.

“Persoalannya adalah bagaimana menemukan kebenaran yang merupakan ide-ide yang
dikandung oleh pepatah-petitih adat Minangkabau itu ? … Oleh karena itu perlu pengkajian
apakah filsafat yang terkandung dalam peribahasa alam takambang jadi guru Minangkabau
tersebut?” (h. 11).

Sesuai dengan suasana agraris yang melatarbelakangi lahirnya pepatah petitih tersebut Minangkabau, maka seluruh pepatah-petitih Minangkabau hanya – atau terutama — merujuk pada fenomena alam seperti : nagari, jalan, bukit, gunung, lembah, danau, laut. Menurut Fanany & Fanany (2003:43) yang dikutip oleh Nursyirwan, 44 % persen pepatah terkait dengan sifat-sifat alam; 23% dengan tumbuh-tumbuhan; dan 33% dengan hewan. (h.7). Oleh karena lahan pertanian adalah terbatas, sedangkan penduduk berkembang secara terus-menerus, kearifan lokal ini juga mengajarkan secara khusus agar kaum muda pergi ‘merantau’ , sebagai suatu tahap sementara dalam kehidupan seorang pemuda Minangkabau, untuk mencari nafkah dan kekayaan, yang diharapkan dibawanya kembali pulang ke nagari-nya masing-masing. Tema merantau juga cukup banyak terdapat dalam pepatah-petitih Minangkabau (h. 90-92).

Sudah barang tentu bisa dipersoalkan apakah ‘alam takambang jadi guru’ tersebut bisa dinamakan ‘filsafat’ dalam artian yang lazim, yaitu sebagai upaya kritis untuk mengungkap apa yang ada di balik semua fenomena yang ada, baik fenomena alam maupun fenomena manusia. Apakah tidak lebih tepat, seperti juga diakui Nusyirwan sendiri, agar pepatah-petitih tersebut dipandang sebagai manifestasi dari apa yang sekarang disebut sebagai local genius, kearifan lokal dari masyarakat Minangkabau yang hidup di nagari-nagari yang berdiri sendiri (h.11).

Seperti dapat diduga, walaupun sampai sekarang Minangkabau masih menganut ajaran ‘alam takambang jadi guru’, namun alam takambang Minangkabau tidaklah berkembang lagi. Tidak banyak ditemukan pepatah-petitih masa kini yang – misalnya — berlatarbelakang pelayaran , industri, teknologi, keuangan, atau perbankan. Dengan kata lain, ajaran ‘alam talambang jadi guru’ sangat sesuai bagi suatu masyarakat agraris, namun ajaran ini tidak, atau belum, mendorong tumbuhnya ethos kerja yang dinamis untuk menghadapi tantangan dan peluang yang dibuka oleh dunia baru pasca agraris. Dengan kata lain, walau sesungguhnya dapat dikembangkan secara dinamis, namun ajaran ‘alam takambang jadi guru’ ini pada dasarnya masih tetap bersifat konservatif.

Ada suatu kesulitan metodologis yang akan mempengaruhi penelitian tentang wawasan filsafati Minangkabau tersebut di atas. Kesulitan metodologis terletak pada kenyataan bahwa suku-bangsa Minangkabau mempergunakan pendekatan yang amat berbeda dengan filsafat pada umumnya. Dalam ‘filsafat’ khas Minangkabau ‘alam takambang jadi guru’, fenomena yang terdapat pada alam sekitar tidak dikaji secara rasional dan analitis, tetapi secara intuitif dan langsung dikristalisasikan serta disublimasikan ke dalam bentuk aphorisms, pepatah-petitih, yang selanjutnya ipandang sebagai kearifan yang dijadikan landasan bagi etika dan tatanan sosial.

Dengan kata lain, tidak ada pertanyaan kritis dalam pepatah petitih Minangkabau; yang ada hanya pengamatan dan penjelasan — sering diiringi ratapan terhadap nasib dan kerinduan kepada kampung halaman — sehingga pepatah petitih Minangkabau sangat terasa bersifat deskriptif dalam isi, dan bernuansa doktrin dan dogma dalam ajaran, yang tidak bisa – atau tidak boleh – dipertanyakan lagi. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, pepatah petitih Minangkabau memang dapat mendorong timbulnya sikap konservatif.

Seyogyanya, sebagai cara berfikir filsafati yang bersifat reflektif, mendasar, dan komprehensif — yang tidak puas-puasnya berupaya untuk menggali jawaban yang terdalam dari semua fenomena dan masalah kehidupan — filsafat dapat menjadi wahana yang andal untuk mencari titik temu antara adat Minangkabau dan agama Islam, dua sistem nilai keminangkabauan yang selintas kelihatannya adalah inkompatibel.

Namun hal itu tidak terjadi. Minangkabau tetap berpepatah-petitih, dan hampir tidak pernah masuk ke filsafat yang sesungguhnya. Dalam pandangan Nusyirwan, filsafat Minangkabau termasuk dalam faham naturalistik (h.89). Sungguh menarik, bahwa mengenai hal ini, dalam disertasinya itu Nusyirwan menyatakan secara kategoris bahwa: “Orang Minangkabau pada awalnya tidak mengenal Tuhan”. (h.74). Dengan kata lain, religiusitas adalah suatu fenomena baru dalam alam Minangkabau.

Berbeda dengan aliran filsafat lainnya, menurut Nusyirwan, filsafat naturalistik Minangkabau mengandalkan intuisi [daripada logika], dan ‘terbiasa dengan permainan kata-kata’ (ibid.) Dengan kata lain, agar supaya akurat, upaya memahami pepatah-petitih Minangkabau perlu dikaji dengan pendekatan intituitif dan konteks sematiknya, dan bukan analisis rasional terhadap frasanya sendiri. Orang Minangkabau menyebut hal ini sebagai mencari yang tersirat di balik yang tersurat.

Sungguh merupakan suatu tantangan tersendiri untuk mengadakan telaahan filosofis yang bersifat rasional dan kritis, terhadap suatu masyarakat yang mendasarkan wawasan dunianya tidak pada telaahan rasional dan kritis, tetapi pada intuisi dan penyesuaian diri kepada alam. Keseluruhan kandungan disertasi Nusyirwan memberi kesan bahwa Nusyirwan memang terombang-ambing dalam dua sisi pribadinya, sebagai seorang doktor filsafat dengan seorang Minangkabau.

Sebagai seorang doktor filsafat, tidak dapat diragukan lagi bahwa Nusyirwan menguasai ilmu yang ditekuninya. Mengenai hal ini Nusyirwan menulis sebagai berikut.

“Berfilsafat berarti melakukan perenungan untuk menemukan dasar-dasar yang kokoh sebagai tempat pijakan segala yang menarik perhatian manusia dalam proporsinya yang murni”. (h.24). Selanjutnya: “ Suatu sistem filsafat mencerminkan pribadi filsuf penyusunnya”. (h.26).

Dalam menerapkan pengertian filsafat ini terhadap tema manusia Minangkabau yang ditelitinya, sudah barang tentu kita mengharapkan – misalnya — adanya eksplanasi filsafati Nusyirwan tentang mengapa orang Minangkabau menganut ‘filsafat alam takambang jadi guru” , dan bukan sekadar deskripsi mengenai apa dan bagaimana filsafat tersebut dalam pandangan orang Minangkabau. Apakah ‘filsafat’ itu tidak merupakan refleksi intelektual dari kondisi geografis Minangkabau, yang penuh dengan bukit, hutan lebat, jurang, danau, sungai ? Dalam konteks kontemporer, misalnya, Nusyirwan bisa mempertanyakan apakah ‘filsafat alam takambang jadi guru’ itu mempunyai pengertian yang sama pada warga masyarakat Minangkabau di Ranah dengan yang di Rantau, dan sekiranya iya, apa penjelasan filsafatinya. Nusyirwan juga bisa menerangkan apa dampak kehidupan di Rantau terhadap variasi filsafat Minangkabau yang dianut oleh para perantau.

Sayang, Nusyirwan tidak banyak menyentuh hal ini. Dalam hubungan dengan tema ‘Menjadi Orang’ yang ditelitinya, Nusyirwan memang menyentuh suatu masalah yang sudah lama merisaukan banyak orang, yaitu tentang keterpurukan Minangkabau. Mengenai hal ini, Nursyirwan menulis:

“ Diharapkan dengan memahami makna ‘Menjadi Orang ‘ dalam Filsafat Minangkabau Alam Takambang Menjadi Guru, orang Minangkabau bangkit kembali dari keterpurukan yang dialami, sebagai proses penyadaran untuk menjadi orang yang lebih tegar, makin arif, dan makin bijaksana pikirannya, dan rendah hati sikapnya, sebagai orang yang percaya pada kuasa Ilahi” ’(h.111).

Tidak banyak penjelasan mengapa dengan ‘filsafat alam takambang jadi guru’ tersebut telah terjadi keterpurukan Minangkabau di masa lampau, dan bahwa dengan filsafat yang sama Nusyirman mengharapkan kebangkitan Minangkabau dari keterpurukannya.

Dihubungkan dengan dinamika dan perubahan sosial yang terjadi di Minangkabau, Prof Dr Azyumardi Azra M.a (2004) menengarai adanya dua ‘school of thought’, yang disebutnya sebagai romantisme dan realisme. Romantisme memandang keminangkabauan sebagai suatu tatanan kemanusiaan yang sempurna tanpa cacat, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah mewujudkannya ke dalam kenyataan. Sebaliknya, pandangan realisme, yang lebih banyak melihat kelemahan dan kekurangan dalam tatanan sosial tersebut.

Kedua jenis pandangan ini mempunyai pendukung-pendukung fanatik,nyaris tanpa kompromi, yang menyukarkan ditemukannya suatu pandangan hidup yang lebih terintegrasi dari suku bangsa Minangkabau. Pandangan romantisisme didukung kuat oleh kaum adat ortodoks, sedangkan pandangan realisme didukung kuat oleh kaum reformis agama, dalam hal ini agama Islam. Dalam zaman Paderi ( 1803-1838) kedua golongan ini disebut sebagai ‘kaum hitam’ dan ‘kaum putih’, yang pernah terlibat dalam perang saudara yang dahsyat.

Walaupun kedua golongan ini antara tahun 1821 -1838 dapat bersatu – secara taktis — dalam menghadapi bala tentara kolonial Hindia Belanda, namun kelihatannya perbedaan pandangan dunia yang belum diintegrasikan tersebut masih tetap merupakan faktor konstan yang melatarbelakangi konflik laten yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau sampai sekarang masih hidup dalam dua sistem nilai yang bersifat dualistis, yang dibiarkan hidup bersisian di bawah ‘bendera gencatan senjata’ yang dikenal dengan ajaran ‘adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’ (ABS SBK), yang kelihatannya belum pernah benar-benar dielaborasi secara cermat, apalagi dari perspektif filsafat.

Masalah-masalah mendasar kontemporer, yang layak untuk dikaji secara filsafati, antara lain adalah menerangkan mengapa demikian sengitnya perlawanan kelompok tertentu di kalangan para ninik mamak, alim ulama, budayawan, dan seniman di Sumatera Barat, terhadap gagasan Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) 2010 yang diprakarsai Gebu Minang, yang juga sama gigihnya untuk menyelenggarakan kongres tersebut, dan ternyata juga mempunyai pendukung-pendukungnya yang lumayan kuat di tingkat nagari. Bukankah fenomena ini misalnya dapat diterangkan sebagai kenyataan bahwa memang telah terjadi jarak antara Ranah yang agraris dan konservatif, dengan Rantau yang urban dan progresif ?

Tidak ayal lagi, Nusyirwan adalah seorang Minangkabau yang mencintai kampung halaman serta kebudayaannya. Keseluruhan disertasinya mengesankan hal itu. Walaupun sikap ini dapat kita apresiasi, namun segera akan terasa bahwa sebagai ilmuwan Nusyirwan kurang menjaga jarak dengan subjek yang ditelitinya. Ekplanasi filsafati Nusyirwan akan lebih meyakinkan, jika untuk memperolah objektifitas dan untuk bisa bersikap kritis, ia lebih bersikap detached.

Ada temuan penelitian Nusyirwan yang amat menarik perhatian , yaitu konsep urang sabana Urang. yang ditafsirkannya sebagai semacam core value dari ‘filsafat’ Minangkabau tentang manusia. Nusyirwan menulis begini.

“ Filsafat alam Minangkabau meletakkan manusia sebagai salah satu unsur yang statusnya sama dengan unsur lainnya, seperti tanah, rumah, suku, dan nagari. Persamaan status itu dilihat dari keperluan budi daya manusia itu sendiri Setiap manusia, secara bersama atau sendiri-sendiri memerlukan tanah, rumah, suku, dan nagari, sebagaimana memerlukan manusia atau orang lain bagi kepentingan lahir batinnya. Oleh karena itu, jika seseorang tidak memiliki keperluan hidup lahir batin, itu dianggap urang kurang”

Sukar untuk menyanggah bahwa dengan pemahaman demikian terhadap manusia, budaya Minangkabau cenderung menjadi materialistik. Mungkin Weltaanchauung Minangkabau tersebut di ataslah yang mendorong terbentuknya dua motif terkuat dalam psike orang Minangkabau, yaitu harato pusako pada suatu sisi, dan marantau pada sisi yang lain. Jika dikaitkan dengan konservatisme dari pepatah petitih Minangkabau, serta keterbatasan sumber daya yang tersedia untuk penduduk yang berkembang secara terus-menerus, temuan itu juga yang rasanya bisa menerangkan fenomena ‘goyahnya tangga menuju mufakat’ yang ditulis Prof Dr Keebet von Benda-Beckmann, atau ‘sengketa tiada putus’ yang ditulis Jeff Hadler.

Ada dua hal yang sedikit mengganggu dalam penulisan disertasi Nusyirwan ini.

Pertama, walau juga merujuk pada doktrin adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, namun Nusyirwan tidak banyak menggali sampai dimana ajaran Islam mempengaruhi ‘filsafat’ alam takambang jadi guru. Padahal – setidak-tidaknya secara formal – orang Minangkabau menampilkan diri sebagai penganut Islam yang kuat., dan konsep tentang manusia sebagai khalifatullah fi’l ardhi demikian sentral dalam ajaran Islam.

Kedua, Nusyirwan memberi arti yang berbeda terhadap konsep ‘Tunggu Tigo Sajarangan”, yaitu sebagai trilogi yang terdiri dari Alue jo Patuik; Anggo jo Tanggo; dan Raso jo Pareso. Pengertian ini kurang lazim, oleh karena lazimnya dengan Tungku Tigo Sajarangan ini dimaksudkan sebagai kepemimpinan kolektif Minangkabau yang terdiri dari para ninik mamak pemangku adat; alim ulama suluah bendang dalam nagari, dan para cadiak pandai palito nan indak namuah padam.

Ada sedikit usul untuk cetakan kedua buku ini, yaitu agar ada indeks untuk memudahkan pembaca menekuni karya ilmiah yang penting ini.

Akhirulkalam, kepada Dr Ir Nusyirwan M.Ph. Sutan Rajo Ameh – dan Penerbit Gre Publishing – kita ucapkan selamat dan terima kasih. Sudah barang tentu, kita juga berharap agar Dr. Nusyirwan meneruskan kajian filsafatnya terhadap demikian banyak masalah keminangkabauan yang selama ini belum terjawab secara memuaskan.

Salah satu tantangan berjangka pendek yang dapat diteliti oleh Dr Nusyirwan adalah pendekatan baru yang ditawarkan oleh pengurus Gebu Minang dalam Seminar Kebudayaan Minangkabau (SKM) 2010, yang — sambil tetap menghormati obsesi Minangkabau terhadap harato pusako — juga menekankan adanya dimensi etis dalam keminangkabauan, yang disebut budi di dalam adat, dan akhlak dalam syarak. Peserta Seminar ini yakin, bahwa dalam budi dan akhlak, adat Minangkabau dan agama Islam akan bisa ‘berjabatan tangan’, sehingga pada suatu saat, ‘syarak akan menjadi adat’, demikian tausiyah Buya H.Hasan Byk Datuk Marajo kepada peserta Seminar ini.





Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s