Orgasme Wanita


Rahasia wanita : Katanya, orgasme perempuan lebih menakjubkan ketimbang laki-laki, karena perempuan punya dua jenis orgasme: klitoral dan vaginal. Dan kalau dirangsang dengan tepat, multiple orgasm bisa didapat.

Itu kira-kira yang kita tahu soal orgasme perempuan. Namun sejalan dengan slogan feminis radikal bahwa the personal is political – di balik orgasme yang sangat pribadi ternyata tercermin keadaan sosial-budaya masyarakat.

The O Project
Berangkat dari keprihatinan mengenai rentannya kedaulatan tubuh perempuan, Firliana Purwanti memulai sebuah proyek. Ia mewawancara sejumlah perempuan dari beberapa wilayah Indonesia. Cukup dengan satu pertanyaan: apa itu orgasme? Pertanyaan sederhana ini berbuntut panjang. Di balik payung orgasme, terkuak seksualitas perempuan yang rumit dan menyeluruh. Wawancara ini kemudian dituangkan dalam sebuah buku: The O Project.

Mengapa orgasme?
Ketika ditanya, mengapa menulis buku soal orgasme, Firli menyatakan, semua berawal dari keresahannya. “Saya resah karena perempuan ternyata tidak bisa menikmati tubuhnya secara utuh. Statistik mengatakan, 75% laki-laki selalu mencapai orgasme ketika berhubungan seksual, sedangkan perempuan hanya 29%-nya. Dari situ timbul pertanyaan, mengapa tingkat kenikmatan seksual perempuan sangat rendah. Apalagi kalau dikaitkan dengan berbagai isu yang keluar, seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Semuanya kan merupakan bagian dari pengingkaran kenikmatan seksual dan keutuhan tubuh perempuan.”

Firli mengaku memilih topik orgasme ini dengan sangat sadar. “Untuk membahas seksualitas perempuan, saya butuh indikator. Jadi orgasme di sini sekadar indikator. Hipotesis buku saya adalah tingkat keberdayaan perempuan berbanding lurus dengan tingkat kenikmatan seksual mereka. Artinya, ketika seorang perempuan berorgasme, maka kemungkinan besar ia punya hubungan yang setara dengan pasangannya, bebas dari kekerasan, ia memilih pasangannya sendiri – walaupun pasangannya juga perempuan – dan ia merdeka mengeksplorasi tubuhnya dan tahu bagaimana mengomunikasikan keinginannya ke pasangannya.”

Tips dan Trik
Sampai musim panas berakhir, Firli berada di Belanda untuk mengikuti kursus mengenai seksualitas. Di sela-sela kegiatan kursus, ia sempat menggelar bedah buku The O Project, bekerja sama dengan PPI Utrecht.

Bedah buku yang digelar di Museum Maluku, Utrecht, mendapat sambutan cukup hangat. Lucunya, sebelum acara mulai, banyak yang tak tahu buku ini soal apa. “Datang ke sini karena penasaran. Siapa tahu bisa dapat tips dan trik soal orgasme,” kata Pipit yang tinggal di Utrecht. Lain lagi dengan Arjen, orang Belanda tulen yang lancar berbahasa Indonesia. “Ini menarik,” katanya, “Seksualitas perempuan itu penting dipahami, bukan cuma oleh perempuan, tapi juga laki-laki.”

Dominasi Laki-laki
Diskusi berlangsung seru. Pengunjung tak malu-malu bertanya atau mengeluarkan pendapat. Eva, dosen UIN Jakarta yang sedang mengikuti kursus musim panas di Belanda, misalnya, mengutip pendapat Nawal El-Saadawi, penulis novel Perempuan di Titik Nol, bahwa menolak untuk orgasme adalah salah satu cara melawan dominasi laki-laki.

Yang perlu ditekankan adalah pemahaman bahwa sampai sekarang, di balik orgasme dan seksualitas perempuan masih terdapat ketidakadilan gender. Dan ini yang harus diperangi. Moralitas masih dilekatkan kepada tubuh perempuan. Keperawanan dan mitos selaput dara masih diagung-agungkan. Berlawanan dengan laki-laki yang dianggap “makin banyak makin hebat” – perempuan riskan dilabeli “pelacur.”

Buku ini jelas tidak disusun untuk mewajibkan perempuan se-Indonesia berorgasme. Pun tips dan trik tak akan ditemukan di sini. Apalagi pornografi. The O Project mengajukan wacana bahwa seksualitas bukan hanya milik lelaki. Ketimpangan gender harus diberantas. Pola patriarkal masyarakat harus diubah.

Buku ini mengajak perempuan untuk sadar, bahwa mereka memiliki dan berkuasa atas tubuh mereka. Dan seperti seksualitas yang harus bisa dibicarakan dengan terbuka, tubuh perempuan pun harus merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s