Situs Cagar Budaya Mesjid Raya Gantiang


 

Mesjid Raya Gantiang adalah mesjid tertua di Kota Padang. Awalnya mesjid ini dibangun pada  tahun 1700 M dalam bentuk semi permanen di tepi Batang Arau. Mesjid tersebut kemudian dibongkar oleh pemerintah kolonial Belanda, karena di tempat tersebut akan dibangun  jalan menuju Pelabuhan Emma Haven di Teluk Bayur. Mesjid kemudian dipindahkan  ke daerah Gantiang. Tanah tempat berdirinya masjid merupakan tanah wakaf dari  masyarakat Gantiang.

Pembangunan mesjid didesain oleh beberapa tokoh  masyarakat setempat, seperti; Angku Gapuak, seorang pedagang dari Pasa Gadang;  Angku Syekh Haji Uma, kepala kampung di Pasa Gadang; Angku Syekh Kapalo Koto,  ulama dan tokoh agama. Sedang pendanaannya didapat dari donatur dari beberapa daerah, seperti: Aceh, Medan, Sibolga, dan Minangkabau sendiri.

Pembangunan dilakukan oleh masyarakat dengan bergotong royong di bawah pimpinan seorang militer Belanda, sebagai salah satu bentuk  tanggung jawab moral dari pemerintah kolonial Belanda karena telah membongkar mesjid  pertama yang berada Batang Arau.  Pada tahun 1819, pembangunan masjid tahap awal  berhasil diselesaikan yaitu sebuah masjid permanen dengan ukuran 30  x 30  m yang dilengkapi dengan serambi (teras) selebar 4 m. Selanjutnya, pembangunan dilakukan  secara bertahap untuk melengkapi bagian yang belum sempurna.

Arsitektur mesjid ini merupakan gabungan dari berbagai corak arsitektur, seperti: Belanda,  Persia, Timur Tengah, China  dan Minangkabau. Konstruksi masjid terbuat dari bahan bermutu tinggi. Bahan  dari kayu, seperti: Kayu Ulin didatangkan dari Bangkinang, Riau; Kayu Rasak didatangkan  dari Indrapura; dan Kayu Kapur dari Pasaman.

Sementara komposisi lain, seperti seng,  ubin dan semen didatangkan dari Eropa. Untuk bagian interior, seperti mimbar, dibuat dan diukir dengan ukiran Tiongkok yang merupakan sumbangan dari seorang saudagar China yang  beragama Islam. Sedangkan lantainya dipasang ubin khusus yang didatangkan dari  Jerman yang dibawa oleh perusahaan Belanda pada tahun 1910.

Di samping itu, terdapat  25 tiang penyangga yang bermakna sebagai simbol dari 25 nabi dan rasul, dan juga  terdapat beberapa ukiran indah dalam bentuk tulisan kaligrafi yang menghiasai masjid  tersebut.

Sumber:Menapak Ranah Minang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s