Penghulu di Minang


Pada awalnya sebutan peng­hulu, digunakan dalam susu­nan struktur peme­rintahan nagari di wilayah Minang­kabau, dimana seorang peng­hulu juga merupakan pemang­ku adat dan bergelar Datuak, selanjutnya dalam susunan sebuah nagari terdapat struk­tur kekuasaan, yang dimulai dari Panghulu, Malin, Manti dan Dubalang[3]. Selanjutnya dari struktur tersebut, kemu­dian disatukan dengan istilah Urang Ampek Jinih (Empat orang dengan fungsi masing-masing).

kepemimpinanDalam suatu nagari, malin atau kadangkala disebut juga dengan imam, merupakan seseorang bertugas dalam urusan agama di dalam suatu suku, dan bertanggung jawab dalam permasalahan adat yang terkait dengan agama (Islam). Manti berhubungan dengan fungsi adat dian­taranya menangani keluhan-keluhan atas pelanggaran adat, bertindak dalam urusan pengadilan serta menjadi juru tulis. Dubalang (hulubalang) berfungsi sama dengan fungsi polisi, bertugas menangani masalah-masalah keamanan atau semacam polisi peng­hulu, dan juga bertugas meng­amankan nagari dari sera­ngan luar nagari ataupun konflik intern yang terjadi antar kaum-keluarga di da­lam satu nagari.

datuak panghuluSetiap suku-suku Minang memiliki struktur penghulu dengan gelar masing-masing. Tinggi rendahnya kedudukan seorang Penghulu dalam adat Minang sangat dipengaruhi oleh kaumnya, dan hal ini sangat memengaruhi status seorang penghulu untuk dapat mengatur dan mengelola sebuah nagari nantinya. Umum­­nya pada sebuah nagari, suku-suku awal pada nagari tersebut memiliki dominasi atas suku-suku yang datang kemudian. Selain memiliki tanah atau sawah yang luas, para penghulu dari suku-suku awal ini juga ditempatkan pada posisi terhormat dibanding penghulu dari suku-suku yang datang kemudian.

Jabatan penghulu dalam sistem matrilineal Minang­kabau terdiri dari tingkatan sebagai berikut:

Penghulu suku, penghulu yang menjadi pemimpin suku dan merupakan penghulu andiko (utama), serta disebut juga penghulu pucuk (Koto-Piliang) dan penghulu tuo (Bodi-Caniago).

Penghulu payung, penghulu yang menjadi pemimpin warga suku yang telah membelah diri dari kaum sukunya kare­na perkembangan jumlah warga suku tersebut.

Penghulu indu (turunan), penghulu yang menjadi pemim­pin warga suku yang telah membelah diri dari kaum sepayungnya.

Persyaratan penghulu :

Sesuai dengan pepatah masyarakat Minangkabau: dari niniak ka mamak, dari mamak ka kamanakan, jaba­tan penghulu diwariskan sesuai dengan garis matrili­neal. Semua lelaki di Minang­kabau dapat menjadi penghu­lu berdasarkan hubu­ngan pertalian kemenakan. Ada empat jenis kemenakan dalam struktur kebudayaan Minang­kabau.

Kamanakan di bawah daguak, merupakan kemena­kan yang ada hubungan perta­lian darah.

Kamanakan di bawah dado, merupakan kemenakan yang ada hubungan karena sukunya sama, walaupun penghulunya berbeda.

Kamanakan di bawah pusek, merupakan kemenakan yang ada hubungan karena sukunya sama tetapi naga­rinya berbeda.

Kamanakan di bawah lutuik, merupakan kemenakan yang sebelumnya berbeda suku dan nagari tetapi telah meminta perlindungan dan menjadi warga suku tersebut.

Mekanisme pengangkatan penghulu

Dalam budaya Minang­kabau pendirian penghulu baru dikenal dengan nama Batagak penghulu (mendirikan penghulu), dengan beberapa macam mekanisme sebagai berikut[5]:

Mati batungkek budi, mendirikan penghulu baru karena penghulu yang lama meninggal dunia.

Mambangkik batang ta­ran­dam, mendirikan penghulu baru setelah bertahun-tahun tidak dapat dilaksanakan karena belum adanya biaya yang cukup untuk mengadakan Malewa gala (perjamuaan).

Mangambangkan nan tali­pek, mendirikan penghulu baru karena sebelumnya ter­tun­da karena belum adanya kesepa­katan dalam kaum tersebut.

Manurunkan nan tagan­tuang, men­dirikan penghulu baru karena calon sebelumnya belum cukup umur.

Baju sahalai dibagi duo, men­dirikan peng­hulu baru karena pem­belahan suku aki­bat perkem­ba­ngan warga­nya se­hingga diperlukan seo­rang penghulu lain disam­ping peng­hulu yang telah ada.

Mangguntiang siba baju, men­diri­kan penghulu baru karena terjadinya perseng­ketaan dalam suku tersebut sehingga suku tersebut dibelah dan mem­punyai penghulu masing-masing.

Gadang mayimpang, men­dirikan penghulu baru oleh suatu kaum yang ingin memi­sahkan diri dari pimpinan penghulu yang telah ada.

Bungo bakarang, pembe­rian status penghulu yang membawa gelaran datuk ke­pa­da seseorang oleh kese­pakatan para penghulu yang ada di nagari tempat dia tinggal. Gelar ini tidak dapat diwariskan karena gelar ini semacam pemberian gelar kehormatan kepada yang bersangkutan saja.

Tugas dan tanggung jawab penghulu :

Tugas seorang penghulu mencakup segala bidang, seperti ekonomi anak keme­nakan, pendidikannya, keseha­tannya, perumahannya, ke­ama­nannya, agamanya serta menyelesaikan dengan sebaik-baiknya kapan terjadi perse­lisihan dalam lingkungan anak kemenakan dan masya­rakat nagari. Tugas-tugas tersebut diatas adalah suatu karya penghulu dalam mem­berikan bantuan dan parti­sipasi terhadap lancarnya jalan pembangunan dan lancarnya roda pemerintahan di nagari. Kalau tugas dalam lingkungan anak kemena­kannya ini telah dilaksanakan sebagaimana mestinya menu­rut hukum adat Minangkabau, adalah merupakan bantuan yang tidak kecil artinya ter­hadap pembangunan dan pemerintahan di daerah kita, yang pokoknya merupakan tugas pula  bagi ninik mamak penghulu di nagari-nagari. Maka di dalam adat Minag­kabau ada empat macam tugas pokok bagi seorang penghulu :

I. Manuruk alua nan Luruih

Artinya seseorang penghu­lu harus melaksanakan segala tugas kepenghuluannya menu­rut ketentuan-ketentuan Adat lamo pusako usang, yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, yang dilan­daskan kepada 4 macam ketentuan :

a. Melaksanakan  (menu­rut) kato pusako.

b. Melaksanakan kato mufakat.

c. Kato dahulu batapati.

d. Kato kamudian kato bacari.

II. Manampuah Jalan nan Pasa

Yang disebut di dalam adat :

Jalan pasa nan ka tam­puah.

Labuah goloang nan ka turuik.

Jangan manyimpang kiri jo kanan.

Condoang jangan kamari rabah.

Luruih manatang dari adat.

Yakni kebenaran. Seharus­nya seorang yang telah jadi penghulu melaksanakan ke­tentuan yang telah berlaku baik cara berumah tangga, berkorong berkampuang, ber­na­gari, jangan diubah dan dilanggar.

Jalan menurut adat ialah dua macam pula :

a. jalan dunia, yakni :

baadat,

balimbago,

bacupak,

bagantang

b. jalan akhirat, yakni :

beriman kepada Allah

beragama islam

bertauhid

beramal

Baadat :

Dalam hal ini adalah melaksanakan dengan sesung­guhnya dengan penuh kesada­ran yang mencer­minkan jiwa dan tujuan adat itu dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu (pemimpin). Seorang yang beradat di Minang­­kabau harus sanggup merasakan ke dalam dirinya apa yang dirasa­kan oleh orang lain, sehingga menjadilah seorang yang beradat, apakah dia pemimpin atau rakyat, orang yang berbudi luhur dan mulia. Karena hal ini syarat mutlak dalam mencapai kebahagiaan lahir bathin, duniawi dan ukhrawi.

Balimbago :

Arti lembaga adalah sua­tu gambaran yang dimakan akal yang merupakan him­punan dari segala unsur penting dalam masyarakat (organisasi).

Rumah tangga adalah suatu lembaga, pemerintahan adalah suatu lembaga, maka seorang penghulu tidak dapat melepaskan diri dari lembaga-lembaga tersebut.

Penghulu adalah sebagai kepala adat dalam kaumnya, sebagai pemimpin dan sebagai anggota kaum. Juga dia seba­gai bapak dari anak, anggota dari kerapatan adat-nagari, mamak dari kemenakan. Kalau seorang penghulu telah melalaikan tugasnya sebagai seorang penghulu, maka dise­but penghulu yang tidak belimbago.

Bacupak :

Cupak adalah suatu uku­ran di Minangkabau yang tidak lebih di kurangi, dan tidak boleh diubah. Kalau dalam adat, cupak yang paling utama diketahui dan dipakai oleh seorang penghulu ialah cupak usali, yakni bagaimana prose­durnya seorang penghulu menyelesaikan suatu sengketa anak kemenakan, sehingga dapat mencapai hasil penye­lesaian  yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya menurut kemampuan  manusia yang diukur dengan cupak tersebut. Maka seorang penghulu harus mempunyai dan keakhlian dalam menye­lesaikan suatu sengketa anak kemenakan, dengan cara tidak boleh dile­bihi dan dikurangi atau berat sebelah (tidak adil).

Bagantang :

Disebut dalam adat gan­tang nan kurang duo limo puluah (empat puluh delapan).  Sebenarnya maksud dari ketentuan adat ini ialah seorang pemimpin harus melaksanakan ukuran yang diturunkan oleh Allah swt melalui Rasul-Nya, menge­tahui tentang sifat-sifat Tuhan itu sendiri, yakni Aqaid yang lima puluh, yaitu 20 sifat yang wajib pada Allah, 20 sifat yang mustahil pada Allah, dan 4 sifat yang wajib pada Rasul, dan 4 sifat yang mustahil pada Rasul, jumlah seluruhnya 48. Yang dua macam lagi tidak disebutkan dalam adat, karena dua macam teruntuk bagi kehendak Allah dan Rasul yakni, satu yang harus pada Allah dan satu yang harus pada Rasul.

Jalan akhirat :

Yakni iman, Islam, tauhid dan makrifat.

Seorang Penghulu perlu menjadi seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, yang benar-benar melaksa­nakan syari’at Islam yang telah diwajibkan dan sekaligus mengesakan Tuhan, dan bera­mal saleh. Karena penghulu adalah partner dari alim ulama yang melaksa­nakan maksud pepatah :

Syarak mangato

Adat mamakai

kepada anak kemanakan dipimpinnya.

III. Mamaliharo Harato Pusako

Mempunyai tangan harato pusako, Seorang penghulu mem­pu­nyai kewajiban meme­lihar­a harta pusaka kaum­nya dan anak kemena­kannya, yang disebutkan dalam ketentuan adat :

Kalau sumbiang dititik

Patah ditimpa

Hilang dicari

Tabanam disalami

Anyuik dipinteh

Talamun dikakeh

Kurang ditukuak

Rusak dibaiki

Artinya seorang penghulu harus berusaha memelihara harta pusaka anak keme­nakan, jangan sampai terjual atau berpindah kepada orang lain. Begitupun tergadai yang tidak menurut syarat yang telah dibolehkan oleh adat Minangkabau, seperti untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan anak dan isteri.

IV. Mamaliharo Anak Kamanakan

Tugas penghulu yang ke­em­pat ini adalah tugas yang berat, tetapi murni dan suci. Seorang penghulu yang baik dan bijaksana dapat mem­berikan arahan kepada anak kemenakan didalam segala lapangan kehidupan. Tugas memelihara anak kemenakan tergantung kepada berjalan­nya tugas yang tiga macam sebelumnya secara baik. Tanpa dapat menjalankan tugas tersebut, seseorang tidak akan berhasil dalam memim­pin anak kemenakan dan ka­um.(h/wkp/berbagai sum­ber)

Ditulis oleh hirvan zued 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s